Dengan cekatan ia panjat pohon itu. Berbekal linggis dan batu, dicabutinya paku-paku berkarat yang sudah lama tertanam di sana. Dalam hitungan menit, puluhan paku terkumpul dalam genggamannya.
Oleh: Arya Fajar
Pohon Mahoni setinggi sepuluh meter itu ialah salah satu pohon yang kerap kali ia sambangi setiap satu kali dalam seminggu. Pohon itu terletak di jalan Ganeca. Di pohon itu selalu saja ada paku yang menancap. Penyebabnya banyak, mulai dari iklan-iklan gelap sampai mitos agar pohon itu tidak menjadi sarang kuntilanak. Itu menurut pengakuannya.
Namanya Sariban. Setiap hari ia berkeliling kota Bandung. Ia punya satu misi, yaitu menjadikan Bandung sebagai kota yang bersih dan nyaman. Topi caping, seragam berwarna kuning lengkap dengan emblem kota Bandung dan sepatu kulit adalah atribut yang selalu ia kenakan. Berbagai macam peralatan, seperti linggis, parang, perlengkapan P3K, sapu lidi, serukan, dan sebuah toa menjadi senjata andalannya ketika bekerja. Tak ketinggalan sepeda onthel kesayangannya yang selalu menemani ke mana saja ia bepergian. Setiap hari, setiap pagi.
Pukul empat pagi adalah waktu ia mulai membuka mata. Diambilnya air wudlu untuk kemudian bergegas ke masjid terdekat untuk shalat subuh. Setelah itu ia mulai menyapu seisi rumah dan menyiram tanaman di halaman. Pukul tujuh, meja makan menunggunya untuk sarapan di mana sang istri telah menyiapkannya. Diambilnya roti dan teh manis, diiringi suasana hangat, bahasa yang renyah dan penuh humor. Satu jam setelahnya barulah ia bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya.


Email
Share on Facebook
Tweet this!
ShareThis








