banjir-bandang

Bukit Gundul, Banjir Bandang Menerjang

posted in News

Malang (Greeners) – Banjir bandang menerjang Desa Tunpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (08/03). Sedikitnya 60 warga desa setempat terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian maupun rumah saudara lainnya. Banjir juga menggenangi pemukiman warga. Ketinggian air mencapai 2,5 meter dan diperkirakan surut dalam sepekan.

Banjir bandang terjadi setelah hujan terus mengguyur selama kurang lebih 15 jam. Selain factor intensitas hujan yang terjadi terus menerus, Desa Tumpakrejo yang lokasinya berada di lembah tidak dapat menampung semua air hujan yang turun di bukit sekitar desa mengalir ke bawah semuanya. Bukit di yang mengelilingi desa tersebut sudah berubah fungsi menjadi lahan pertanian warga.

Camat Kalipare, Ahmad Aziz mengatakan, banjir bandang di desa tersebut memang terjadi setiap tahun, namun baru kali ini yang terparah. Akibatnya, sebanyak 17 rumah yang dihuni 16 kepala keluarga (KK) atau 60 warga Desa tumpakrejo terpaksa mengungsi. “Mereka mengungsi ke tempat saudaranya yang terdekat,” kata Ahmad Aziz, saat berada di lokasi kejadian.

Selain mengakibatkan puluhan warga mengungsi, banjir juga merendam sektiar 10 hektare lahan pertanian ditanami tanaman Jagung, Tebu, dan Padi. Kerugian akibat kejadian ini diperkirakan mencapai Rp 60 juta.
Salah satu warga korban banjir bandang Sujono (60), mengatakan, Ia bersama lima anggota keluarganya saat ini mengungsi di rumah saudaranya. Semua perabotan rumah tangga dan barang berharga lainnya tak sempat diselamatkan karena air yang datang cukup cepat. “Semua barang-barang tidak sempat saya bawa mengungsi,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Malang berencana akan membangun slauran sudetan dari desa tersebut menuju aliran sungai terdekat untuk mencegah agar air dapat mengalir ke sungai. Hal ini untuk mencegah agar banjir bandang tidak terjadi lagi.

Asisten Kesejahteraan Pemkab Malang, saat berada di lokasi banjir mengatakan, Desa Tumpakrejo memang posisinya berada di lembah, sehingga semua air hujan yang turun mengalir ke bawah semua karena di bukit sudah beralih menjadi lahan pertanian. “Solusinya pemerintah akan membangun sudetan agar air yang mengalir dapat langsung menuju sungai,” katanya.

Banjir yang menerjang wilayah ini memang setiap tahun terjadi, namun di tahun-tahun sebelumnya air yang mengalir ke lembah dapat meresap ke dalam tanah karena ada semacam rekahan bumi, sehingga air cepat meresap. Namun, kondisi rekahan tersebut kini telah beralih menjadi lahan pertanian dan tersumbat batang-batang pohon sehingga air tak bias langsung meresap. (G17)