ECO-FASHION, SEBUAH GAYA HIDUP ATAU HANYA TREN BELAKA?

Email Share on Facebook Tweet this! ShareThis

Berapa banyak kaos ketat yang tertumpuk dalam lemari anda, disaat tren mode beralih dari kaos-kaos body size loose? Atau berapa pasang skinny jeans yang tergantung di lemari anda pada saat model celana harem sedang digandrungi sekarang ini? Tanpa disadari  anda telah melakukan pemborosan energi dengan menjadi seorang pemuja tren.

Oleh : Dita Kusuma

Secara tidak langsung, tindakan konsumtif itu membawa dampak negatif yang luas terhadap lingkungan sekitar bahkan dunia. Kalau anda berpikir bahwa kaos katun yang anda pakai adalah produk yang ramah lingkungan dibandingkan kain sintetis seperti nylon dan polyester (yang proses pembuatannya diyakini sebagai penyumbang terbesar polusi dunia), maka anda salah besar.

Pertanian Kapas (bahan baku utama kain katun) adalah salah satu pertanian yang tidak ramah lingkungan. Peruntukannya yang bukan sebagai bahan pangan membuatnya secara rutin disemprot dengan campuran pestisida dan bahan kimia berbahaya dalam jumlah besar. Dampak jangka panjangnya tentu sangat buruk bagi tanah dan lingkungan sekitar, bahkan untuk kesehatan para pekerjanya.

ECO-FASHION

Yang sedang ramai disuarakan sekarang ini terutama di negara-negara maju adalah gerakan eco-fashion. Sebagai sebuah pilihan baru dalam dunia fashion, Eco-fashion telah berkembang menjadi sesuatu yang sangat besar dan hip. Konsep dari Eco-fashion merujuk pada segala produk fashion dan aksesoris yang telah diproduksi menggunakan produk-produk dan proses yang ramah lingkungan. Eco-fashion tidak terbatas pada penggunaan bahan-bahan organik saja, tapi juga meliputi barang-barang daur ulang dan vintage.

Perkembangan eco-fashion tidak terlepas dari gerakan ethical fashion yang disuarakan oleh komunitas LSM luar negeri di era tahun 1990-an. Ethical fashion berusaha memberikan keuntungan maksimal terhadap komunitasnya serta meminimalkan efek buruk terhadap lingkungan sekitar. Dan ini berarti sistem perdagangan yang adil, menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, upah yang sesuai dengan standar, tidak memperkerjakan anak di bawah umur serta menghindari diskriminasi wanita.

Ethical fashion tidak menggunakan hewan sebagai percobaan ataupun sebagai bahan baku produksi. Dan yang terpenting adalah selalu memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup dalam kegiatan industrinya.

Eiger
  • akhmad: tank's... infonya......
  • abu yusuf: thanks for share... very useful......
  • Reza M. Tjahjono: Setuju sama abah!...
  • akbar: makasih infonya....
  • Subakti: dengan kreativitas saya mau menyulap bahan-bahan sisa atau limbah yang masih bisa didaur ulang menjadi barang-barang yan...
Make Profit Advertise With Us Subscribe
Content