Patrakomala: Si Eksotis Ikon Bandung

Email Share on Facebook Tweet this! ShareThis

Bandung sudah dikenal sebagai kota Kembang sejak dulu. Mungkin ada suatu masa di mana Bandung dipenuhi oleh flora yang cantik-cantik dan membuat teduh mata yang memandang. Kini, menjelang ulang tahun kota Bandung yang apakah masih banyak bunga-bunga yang tumbuh di tanah Pajajaran? Lalu tahukah Anda, bunga apa yang merupakan ciri khas kota Bandung?

Oleh: Irma Chantily

Ada jalan yang bernama Patrakomala di daerah sekitar jalan Supratman, Bandung. Sudah tak asing lagi dengan nama bunga itu, bukan? Ya, Patrakomala merupakan bunga yang diperkenalkan di Bandung sebagai bunga hias di pekarangan rumah. Entah sejak kapan, Patrakomamala kemudian dianggap sebagai tanaman khas Bandung.

Dalam buku keluaran Departemen Dalam Negeri tahun 1999, pemerintah menetapkan bahwa tiap propinsi di Indonesia harus memiliki flora dan fauna sebagai ikonnya. Bandung memilih Patrakomala. Mengenai formalitas Patrakomala sebagai ikon Bandung, dosen Biologi Universitas Padjadjaran Budi Irawan mengatakan bahwa ia tidak paham, apakah Patrakomala sudah memiliki Surat Keputusannya atau belum. Namun ia yakin bahwa pemerintah kota Bandung telah menetapkan Patrakomala sebagai ikon untuk Ibu kota Jawa Barat tersebut.

“Biasanya tiap bulan November ada acara Hari Cinta Puspa Satwa. Di sana tiap kabupaten meluncurkan maskot mereka dan yang kemungkinan besar memang berkaitan dengan sejarah. Bandung memilih Patrakomala,” Budi berkata menjelaskan mengenai pemilihan ikon tiap daerah di Indonesia.

Begitu pentingnya Patrakomala sebagai sebuah ikon, ia bahkan ditempatkan sebagai penghias dalam stilasi yang memeringati peristiwa Bandung Lautan Api. Sepuluh stilasi yang ada di Bandung dirancang oleh seorang seniman, Sunaryo.  Stilasi tersebut berbentuk prisma tegak segitiga yang terbuat dari beton dengan hiasan bunga Patrakomala ynag terbuat dari besi masif.

Tanaman yang memiliki nama latin Caesalpinia pulcherrima mungkin memang telah selalu ditanam di Bandung hingga sekarang. Lagipula, menurut dosen Biologi Universitas Padjadjaran Budi Irawan, Patrakomala merupakan tanaman yang eksotik. “Terutama ketika bunganya mekar. Sangat indah. Ada yang berwarna merah, kuning, juga merah muda,” katanya menjabarkan keindahan ikon Bandung tersebut. Budi menambahkan, bentuk bunga yang tengah berkembang itu menyerupai ekor merak. Mungkin itu sebabnya Patrakomala memiliki sebutan lain, yaitu Kimerak. Sayangnya, Patrakomala yang berbunga merah muda sudah jarang ditemukan. Entah apa alasannya.

Tanaman hias yang tergolong sebagai tanaman perdu ini memang memiliki bentuk yang sesuai dengan arti nama latinnya. Pasalnya, bunga Patrakomala tumbuh dengan cantik, itulah arti pulcherrima. Karena itulah pemerintah kota Bandung rajin menanamnya di sepanjang jalan, untuk mempercantik pemandangan.

Di negara endemiknya, yaitu Amerika tropis, Patrakomala memiliki nama Peacock Flower. Sedangkan di Kepulauan Karibia, yang juga memilih Patrakomala sebagai ikonnya, tanaman ini dikenal sebagai Pride of Barbados karena keanggunannya. Di daerah-daerah sebarannya, apalagi di negara yang beriklim sub-tropis, baru pada pertengahan musim semi bunganya bersemi, karena Patrakomala hanya mampu bertahan hingga -7ºC. Berbahagialah negara tropis seperti Indonesia karena di sini Patrakomala dapat berbunga hampir sepanjang tahun.

Sebagai tanaman perdu yang hidup di tempat tropis, Patrakomala memiliki fisik yang tidak terlalu besar. Tingginya hanya berkisar dua hingga tiga meter. Meskipun demikian, Patrakomala tetap memiliki batang. Ranting-rantingnya yang tumbuh dengan baik biasanya menyebar ke segala arah dan dapat mencapai panjang yang serupa dengan tinggi pohonnya. Daunnya tersusun dua secara berentangan dan dapat memanjang hingga 0,75 inci. Sedikit menyerupai daun pete selong atau daun pada tanaman Flamboyan, tapi dengan ukuran yang lebih besar.

Kegunaanya yang utama memang bukan untuk mereduksi polusi. Patrakomala murni bertugas untuk mempercantik pemandangan. “Dari pada hijau terus-terusan, maka ditanamlah Patrakomala,” celetuk Budi di tengah-tengah wawancara. Apalagi, tanaman ini dapat menarik perhatian lebah, kupu-kupu dan burung. Jadi, bisa dibayangkan, betapa alamiahnya lingkungan kota jika dipenuhi oleh Patrakomala yang tengah berbunga.

Fungsi Patrakomala yang dikenal oleh orang-orang yang berdiam di hutan hujan Amazon bukanlah fungsi estetisnya. Mereka percaya bahwa tanaman ini memiliki khasiat sebagai obat, yang disebut ayoowiri. Daunnya dapat digunakan untuk menyembuhkan demam sedangkan bunganya dapat menyembuhkan luka. Selain itu, bibitnya dikatakan dapat menyembuhkan batuk yang parah, kesulitan bernafas dan nyeri di dada.

Menurut literatur dari Budi, daun Patrakomala dapat digunakan untuk mengobati bisul. Sedangkan bunga dan akarnya dapat digunakan untuk mengatasi kejang dan diare. Selain itu bunga dan biji Patrakomala pun bermanfaat sebagai obat untuk demam, sembelit dan memperlancar siklus haid.

Anda pun dapat memiliki keindahan Patrakomala di kebun. Pasalnya, Patrakomala memang diperkenalkan sebagai tanaman hias di pekarangan. Dengan kriterianya yang mudah dirawat, Anda tidak memerlukan banyak tips untuk mengembangkan Patrakomala yang sehat. Tanaman ini membutuhkan pengairan secukupnya, sekitar sekali dalam satu minggu ketika sedang berbunga. Tinggi dan pertumbuhan Patrakomala akan ditentukan oleh suplai air. Tanah yang asin pun tidak jadi soal bagi Patrakomala. Sehingga dalam sekejap, kebun dan kota kita dapat menjadi cantik.

Dimuat dalam Greeners edisi cetak no 7 tahun 2007

Eiger
  • akhmad: tank's... infonya......
  • abu yusuf: thanks for share... very useful......
  • Reza M. Tjahjono: Setuju sama abah!...
  • akbar: makasih infonya....
  • Subakti: dengan kreativitas saya mau menyulap bahan-bahan sisa atau limbah yang masih bisa didaur ulang menjadi barang-barang yan...
Make Profit Advertise With Us Subscribe
Content