Komodo: Naga Purba, Sang Pemangsa

Email Share on Facebook Tweet this! ShareThis

Komodo (Varanus Komodoensis) merupakan kadal raksasa yang menjadi pemangsa utama di habitatnya. Ia dipercaya sebagai reptil tua dari zaman dinosaurus yang masih bertahan hingga kini. Mengingat keberadaannya yang semakin langka, dibutuhkan upaya dari berbagai pihak untuk menjaga mereka dari kepunahan.

Oleh: Feri Ferdinan

Komodo (Varanus komodoensis) pertama kali diteliti oleh seorang Eropa pada tahun 1910. Kemudian tahun 1912 Peter Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor  memperkenalkan hewan ini  ke seluruh dunia melalui karya tulisnya. Hingga akhirnya, beliau mengabadikan kadal besar itu sebagai cap atau lambang Museum.

Hewan ini termasuk anggota dari keluarga biawak (Varanidae). Komodo dewasa panjangnya bisa mencapai tiga meter dan mempunyai berat antara 45 – 140 kg. Ia termasuk karnivora yang mempunyai indra penglihatan yang buruk. Kendati demikian, jangan pernah meragukan biawak ini dalam hal berburu. Tubuh yang besar dan kecerdasannya dalam mencari mangsa membuat ia menjadi puncak rantai makanan di habitatnya. Melalui lidahnya yang peka, ia mampu mendeteksi keberadaan mangsa hingga sejauh 12 km. Lidah Komodo akan merasakan bau makanannya dengan menangkap partikel zat kimia di udara dan tanah.

Ketika menemukan mangsa, hewan yang senang tinggal di lubang-lubang tanah ini akan mengendap-endap mendekati sang mangsa. Jika jarak mangsanya dirasa cukup, ia langsung menyergap dengan cepat dan mengigitnya. Kemudian ia akan membiarkan buruannya mati keracunan. Berbeda dengan ular yang memiliki bisa di taringnya, racun Komodo terletak di air liurnya yang mengandung sekitar 60 jenis bakteri dan akan berakibat fatal jika terinfeksi liur tersebut. Namun, racun ini tidak menimbukan efek berbahaya terhadap Komodo lainnya.

Selain menyantap makanan tanpa melalui proses mengunyah, reptil raksasa ini juga mampu memasukan sekitar 2,5 kg makanan ke dalam perutnya dalam satu menit. Komodo setidaknya membutuhkan makanan sebanyak 80 persen dari berat tubuhnya. Umpama seorang dewasa yang menyantap 400 hamburger dalam sekali duduk. Setelah merasa kenyang, mereka mampu bertahan tanpa makanan selama beberapa minggu hingga perutnya kembali kosong.

Wilayah tropis merupakan tempat tinggal yang cocok untuk reptil peninggalan zaman prasejarah yang sudah langka ini. Komodo membutuhkan daerah yang mempunyai suhu sekitar 40 derajat celsius, mengingat karakteristiknya sebagai hewan berdarah dingin mengharuskan ia untuk menjaga suhu tubuhnya di atas 23 derajat celsius. Karena, jika suhu tubuhnya terlalu rendah, makanan di dalam perutnya bisa membusuk dan menyebabkan muntah, bahkan pada kondisi tertentu dapat mengakibatkan kematian. Jika siang terasa terlalu panas, Komodo akan beristirahat dengan mencari tempat berteduh atau berendam di lumpur dan sumber air.

Jika Anda ingin mengamati karakteristik dan aktivitas komodo secara langsung, Anda bisa mengunjungi kepulauan Nusa Tenggara tepatnya di pulau Komodo, Rinca, dan Padar yang terletak di antara Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumbawa Besar.

Pulau Komodo dan sekitarnya mempunyai suhu udara rata-rata 40 derajat celsius yang merupakan keadaan lingkungan yang sangat cocok bagi komodo untuk hidup dan bereproduksi.

Secara fisik, agak sulit membedakan antara komodo jantan dan betina. Adapun cara mudah untuk membedakannya, biasanya Komodo yang berperut lebih besar berkelamin jantan. Ciri mencolok dapat terlihat pada pola sisik Komodo jantan di bagian bawah pangkal ekornya. Survei terakhir, Taman Nasional Komodo (TNK) mencatat jumlah Komodo jantan lebih banyak daripada betina, yaitu sekitar satu banding tiga. Layaknya hewan lainnya, maskot Pulau Komodo ini terkadang berkelahi untuk mempertahankan wilayahnya, terutama pada musim kawin yang berlangsung sekitar Juni-Juli.

Pada musim kemarau, sekitar Agustus, suhu udara pada siang hari di Pulau Komodo bisa mencapai 43 derajat celsius. Keadaan seperti ini adalah saat yang paling tepat untuk komodo bereproduksi. Komodo-komodo betina yang tengah mengandung segera mencari tempat-tempat persembuyian untuk menelurkan keturunannya. Bekas sarang burung gosong (Megapodius reindwardt) biasanya menjadi tempat pilihan, pasalnya tempat itu berada di tengah hutan dan jauh dari gangguan binatang lain. Selain itu, permukaan tanah yang cenderung membukit dan lubang yang cukup dalam juga dinilai aman guna melindungi telur-telur bakal komodo-komodo kecil. Dalam satu tempat biasanya berisi sekitar 38 butir telur komodo yang akan dijaga induknya hingga menetas.

Pada Februari atau Maret telur-telur Komodo akan menetas. Umumnya anak komodo yang baru keluar dari telur mempunyai panjang 40 cm dan beratnya sekitar 100 gram. Dalam lima tahun Komodo-komodo kecil tumbuh besar hingga panjangnya mencapai dua meter dan dapat terus hidup sampai 30 tahun.

Sejak menetas, Komodo-komodo kecil harus hidup mandiri menghadapi keganasan alam liar. Pemangsa-pemangsa seperti burung, komodo yang lebih besar bahkan induknya sendiri senantiasa mengancam keselamatannya. Dengan segala keterbatasan fisik, mereka mencoba bertahan hidup sampai dewasa dan menjadi pemangsa utama. Komodo-komodo kecil menghindari pemangsa-pemangsa itu dengan cara memanjat pohon. Mereka mampu memanjat hingga pada ketinggian 20 m dan keahlian ini tidak dimiliki komodo dewasa. Pada tubuh mereka terdapat bintik-bintik warna kuning dan bercak gelap di tubuhnya Bintik itu berfungsi menyamarkan diri saat berada di batang kayu agar tidak terlihat musuh. Cengkraman cakar-cakarnya yang kuat juga bisa melindungi dirinya dari serangan musuh. Keahlian lain yang dimiliki oleh komodo muda ini adalah kecepatan berlari yang mencapai 20 km/jam.

Komodo kecil menjalani kehidupan di atas pohon hingga usianya mencapai tiga tahun. Mereka makan berbagai jenis binatang yang hidup di atas pohon seperti kadal kecil, serangga, dan burung. Setelah itu, baru mereka turun ke kehidupan di darat dan sumber makanannya pun otomatis bertambah. Komodo muda akan memangsa musang, babi hutan dan memakan sisa-sisa makanan Komodo dewasa. Komodo muda selalu menjaga jarak dengan komodo dewasa karena ketidakmampuan mereka dalam berkompetisi mendapatkan makanan. Setelah tumbuh dewasa, komodo-komodo muda ini menjadi pemangsa utama dan seperti komodo-komodo dewasa lainnya memburu hewan yang lebih besar guna memenuhi nafsu makannya yang luar biasa. Kali ini yang diburu adalah binatang-binatang seperti rusa, kerbau, dan babi.

Komodo dapat menyerang manusia. Lebih dari selusin orang telah menjadi korban gigitan komodo dalam 30 tahun terakhir ini. Salah satunya, seperti yang dicatat oleh Tempo Interaktif bahwa pengelola TNK merelokasi komodo yang memangsa seorang anak kecil berusia sembilan tahun di Kampung Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Pulau Sabita.

Peristiwa itu terjadi di awal Juni 2007. Biawak raksasa ini tiba-tiba muncul dari arah belakang dan menerkam seorang anak kecil bernama Mansur bersama dua rekannya saat membuang hajat. Korban tewas setelah sebagian tubunya tercabik-cabik. Anak itu mengalami luka yang cukup parah di paha kanan, perut, tungkai kanan dan wajah.

Jumlah Komodo yang hidup di Kepulauan Flores di Indonesia, berdasarkan data tahun 2009 yang didapat dari Balai TNK, tercatat sekitar 2.798 ekor. Diantaranya Pulau Komodo mempunyai Komodo sebanyak 1.288 ekor, Pulau Rinca mempunyai 1.336 ekor, Pulau Gili Motang mempunyai 83 ekor, di Nusa Kode ada 86 ekor . Sedangkan di Pulau Padar diketahui telah hilang sejak akhir 1990-an, padahal pada data yang dikumpulkan oleh Auffenberg pada 1981 populasinya sekitar 60 ekor.

TNK didirikan pada tahun 1980 dan menjadi tempat yang dilindungi pemerintah. Namun, walaupun tempat itu dilindungi bukan berarti Komodo terbebas dari ancaman. Hal ini disebabkan karena dalam 20 tahun terakhir ini banyak kegiatan perburuan rusa secara ilegal. Penyakit dan berkurangnya binatang buruan seperti rusa, kerbau air dan babi hutan bisa menjadi ancaman yang berbahaya bagi kelangsungan hidup pemangsa utama di TNK ini.

Ancaman lain yang juga membahayakan komodo adalah kebakaran hutan. Di wilayah ini, kebakaran padang savana terjadi hampir setiap tahun. Kebakaran itu diduga berasal dari tungku yang dibuat para nelayan saat singgah di pulau itu. Kebakaran hutan di TNK dikhawatirkan menghabiskan rumput sebagai pakan dari rusa yang merupakan mangsa komodo.

Kepala Balai TNK, Sustyo Iriyono, menerangkan perkembangbiakan Komodo di TNK terlihat menurun sejak tahun 2006 berdasarkan survei sarang komodo aktif di kawasan TNK. Survei sarang komodo aktif ini sedang dilakukan lagi untuk memantau kondisi perkembangbiakan Komodo.

Sarang aktif Komodo pun turut mengalami penurunan. Data yang dimiliki Balai TNK menyebutkan pada 2006 jumlah sarang aktif yang ada berjumlah 7 sarang. Padahal  pada tahun 2002 jumlah sarang aktif masih ada 22 sarang. Jumlah ini terus menurun tiap tahunnya.

Patroli di seluruh kawasan TNK adalah salah satu upaya untuk mencegah kepunahan komodo. Petugas biasanya memburu pemburu liar dan penebang hutan yang bakal mengganggu sumber makanan komodo. Tidak hanya patroli yang melindungi komodo, masyarakat kampung Komodo, Rinca, Kerora, dan Papagarang yang tinggal di pantai-pantai sekitar taman nasional juga ikut menjaga. Apapun upaya petugas dan warga, tujuan mereka hanya untuk melindungi komodo dari kepunahan.

Rasanya tidak cukup jika kita hanya mengandalkan para petugas dan masyarakat di sana saja. Pemerintah hendaknya bersikap lebih proaktif terhadap kelangsungan hewan langka ini. Masyarakat juga bisa ikut berpartisipasi menyelamatkan Komodo dari kepunahan dengan cara memberikan bantuan dana melalui lembaga-lembaga resmi yang berwenang. Seperti kita tahu, Komodo merupakan salah satu bentuk identitas Indonesia yang keberadaannya masih bisa kita nikmati. Jika hewan itu punah, bagaimana dengan nasib anak-cucu kita di masa mendatang tidak bisa melihat kegagahan Komodo.(ff)

Taksonomi

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Chordata

Class                  : Reptilia

Order                : Squamata

Suborder         : Autarchoglossa

Family              : Varanidae

Genus                : Varanus

Species             : Varanus Komodoensis

Dimuat dalam Greeners cetak edisi bahasa Inggris No 9 Tahun 2007

Eiger
  • akhmad: tank's... infonya......
  • abu yusuf: thanks for share... very useful......
  • Reza M. Tjahjono: Setuju sama abah!...
  • akbar: makasih infonya....
  • Subakti: dengan kreativitas saya mau menyulap bahan-bahan sisa atau limbah yang masih bisa didaur ulang menjadi barang-barang yan...
Make Profit Advertise With Us Subscribe
Content